JAKARTA, Duniaheadline – Bencana asap yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, memasuki fase kritis pada hari ketiga. Api yang terus berkobar di tumpukan sampah tidak hanya menyulitkan tim penyelamat di lapangan, tetapi juga langsung berdampak pada menurunnya kualitas udara dan kesehatan masyarakat sekitar. Kobaran yang bermula sejak Selasa (30/6/2026) silam ini menuntut respons ekstra dari berbagai pihak, mulai dari sektor kesehatan hingga penanggulangan bencana.
Ratusan Warga Alami Gangguan Pernapasan, Dinkes Keluarkan Imbauan Darurat
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) signifikan pasca-terjadinya kebakaran besar tersebut. Tercatat ada 154 warga yang berdomisili di sekitar kawasan TPA harus menjalani perawatan medis akibat menghirup asap pekat.
Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, memastikan bahwa seluruh korban merupakan pasien rawat jalan dan kondisinya telah membaik sehingga diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Meski demikian, pihaknya tidak menganggap enteng situasi ini dan memperkirakan angka bisa bertambah jika asap belum juga berhenti mengepul.
Sebagai langkah mitigasi, Hendra secara tegas menginstruksikan masyarakat yang tinggal di radius dekat lokasi kebakaran untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diminta untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mulai merasakan batuk-batuk, sesak, atau iritasi tenggorokan.
Medan Api Sulit Dikuasai, Dua Helikopter Water Bombing Dikerahkan
Di sisi lain, upaya pemadaman api oleh tim pemadam kebakaran (damkar) Kabupaten Tangerang menghadapi tantangan berat. Operasi penyemprotan air dari darat terpaksa dihentikan sementara pada Rabu (1/7) malam karena alasan keamanan dan visibilitas. Aksi penyemprotan ini dilanjutkan kembali pada Kamis (2/7) pagi setelah kondisi sedikit membaik.
Kendala utama pemadaman diungkapkan langsung oleh Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Brigjen TNI Djohan Darmawan. Ia menjelaskan bahwa karakteristik api di TPA sangat berbeda dengan kebakaran hutan biasa. Kombinasi antara cuaca ekstrem musim kemarau dan hembusan angin kencang yang tak terprediksi membuat api dengan mudah menjalar ke tumpukan sampah baru di bawah permukaan.
Mengingat skala kebakaran yang terlalu luas dan sulit dijangkau oleh tim darat, pimpinan akhirnya memutuskan untuk melakukan eskalasi penanganan. Dua unit helikopter water bombing direncanakan akan segera diterjunkan ke lokasi untuk menjatuhkan air dari udara. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai api dan mempersempit area kobaran yang hingga kini masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.








