Menu

Dark Mode
Gaji Guru Sekolah Rakyat Lebih Tinggi dari Guru Reguler? Simak Perbandingan dan Cara Daftar PPPK 2026 Rupiah Sentuh Rp18.000, Maia Estianty dan Nana Mirdad Buka Suara Timnas U-19 Modal Dua Kemenangan, Siap Tantang Vietnam Rupiah Anjlok ke Rp17.900, Apa Dampaknya bagi Ekonomi? Kepergok Ciuman di Kampus, Mahasiswa PNJ Disanksi Prabowo Rombak Pimpinan BGN, Nanik S. Deyang Ditunjuk

Ekonomi

Rupiah Anjlok ke Rp17.900, Apa Dampaknya bagi Ekonomi?

badge-check


Pelemahan rupiah ke level Rp17.900 per dolar AS memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Perbesar

Pelemahan rupiah ke level Rp17.900 per dolar AS memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Jakarta,  Duniaheadline  –  Nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami tekanan hingga menembus level psikologis baru di atas Rp17.900 per dolar AS. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda sempat melemah ke level Rp17.905 sebelum kembali bergerak ke Rp17.914 per dolar AS.

Pelemahan tajam ini tidak terjadi tanpa sebab. Pergerakan nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan. Kondisi global yang penuh ketidakpastian serta tantangan ekonomi domestik menjadi pemicu utama melemahnya rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Faktor Eksternal: Konflik Global dan Kebijakan The Fed

Secara global, penguatan indeks dolar AS ke level 99,227 menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Terdapat beberapa sentimen eksternal yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global dan memicu risiko stagflasi, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat tetapi inflasi tetap tinggi.

Kedua, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik. Kenaikan harga energi berdampak langsung terhadap biaya transportasi dan produksi secara global sehingga mendorong inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

Ketiga, prospek suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh bank sentral AS (The Fed). Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih kuat membuat pasar memperkirakan The Fed belum akan terburu-buru memangkas suku bunga. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.

Faktor Internal: Tingginya Kebutuhan Dolar AS

Selain tekanan global, pelemahan rupiah juga dipengaruhi sejumlah faktor domestik. Tingginya kebutuhan terhadap dolar AS membuat permintaan valuta asing meningkat, sementara pasokan relatif terbatas.

Indonesia yang masih berstatus sebagai net importer minyak harus mengeluarkan lebih banyak dolar AS ketika harga minyak dunia naik. Kebutuhan impor energi yang besar otomatis meningkatkan permintaan terhadap mata uang AS.

Di sisi lain, pembayaran dividen perusahaan asing serta kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo turut menambah kebutuhan devisa. Beban pembayaran yang mencapai ratusan triliun rupiah menjadi salah satu faktor yang menekan cadangan devisa nasional.

Ketidakpastian ekonomi juga mendorong sebagian masyarakat dan pelaku usaha mengalihkan dana ke tabungan valuta asing sebagai langkah lindung nilai (hedging). Tren ini memperbesar permintaan dolar AS dan mempercepat pelemahan nilai tukar rupiah.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Ekonomi dan Pasar Modal

Pelemahan rupiah yang cukup tajam biasanya langsung berdampak pada pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi hingga 3,03 persen ke level 6.008,69 akibat meningkatnya aksi jual investor.

Meski aktivitas manufaktur domestik masih berada di zona ekspansif dengan PMI di level 50,0, sektor ekspor menghadapi tekanan akibat perlambatan perdagangan global. Kondisi tersebut tercermin dari surplus neraca perdagangan yang menyusut drastis menjadi sekitar US$90 juta dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$3,32 miliar.

Selain itu, inflasi bulanan yang mulai meningkat serta tingginya kredit yang belum tersalurkan oleh perbankan menunjukkan dunia usaha masih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Banyak perusahaan memilih menunggu kepastian kondisi ekonomi dan stabilitas nilai tukar sebelum mengambil keputusan investasi baru.

Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha dan masyarakat perlu lebih cermat mengelola keuangan serta melakukan diversifikasi aset untuk mengurangi risiko akibat fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global.

Read More

Rupiah Sentuh Rp18.000, Maia Estianty dan Nana Mirdad Buka Suara

5 June 2026 - 17:35 WIB

pelemahan rupiah terhadap dolar AS hingga menyentuh level Rp18.000.

Kepergok Ciuman di Kampus, Mahasiswa PNJ Disanksi

3 June 2026 - 11:58 WIB

Kasus mahasiswa yang kepergok berciuman di kampus PNJ berujung pada pemberian sanksi dan menjadi perhatian publik.

Prabowo Rombak Pimpinan BGN, Nanik S. Deyang Ditunjuk

3 June 2026 - 11:35 WIB

Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional.

Fabiola Elizabeth Agnes Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan Daring

2 June 2026 - 14:48 WIB

Fabiola Elizabeth Agnes saat menjalani proses hukum setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan daring.

Lion Air Jelaskan Video Viral Baling-Baling Pesawat Diikat Kabel Ties

1 June 2026 - 10:40 WIB

Baling-baling pesawat yang diikat kabel ties dalam video viral yang mendapat penjelasan dari Lion Air.
Trending on Nasional