JAKARTA – Sebuah kisah historis yang jarang diketahui publik mengemuka terkait hubungan erat antara Presiden Soekarno dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ahmad Yani. Pria yang lahir tepat 104 tahun lalu ini, pernah dipercaya oleh Bung Karno sebagai calon pengganti pemimpin tertinggi Indonesia, berdasarkan sebuah wangsit yang diterima saat tidur siang.
Peristiwa unik ini terjadi pada September 1965. Saat itu, Ahmad Yani sedang asyik bermain golf sebelum tiba-tiba mendapat panggilan mendadak dari Istana Negara. Tanpa sempat berganti pakaian, sang jenderal langsung bergegas menemui Presiden Soekarno.
Wangsit Ilahi dan Penolakan Halus Jenderal Yani
Begitu Yani tiba, Soekarno langsung membuka percakapan dengan pengakuan yang mengejutkan. Bung Karno menuturkan bahwa dirinya baru saja mendapatkan wangsit dari Yang Maha Kuasa dalam tidur siangnya. Soekarno menegaskan bahwa apabila suatu hari ia tak lagi bisa menjalankan tugas atau meninggal dunia, Yani-lah yang harus menggantikan posisinya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Pernyataan ini memicu kejutkan bagi Ahmad Yani. Pria asal Purworejo tersebut tidak serta merta menerima titah tersebut. Dalam hatinya, Yani merasa masih terlalu banyak tokoh politik senior yang jauh lebih layak untuk naik tahta kepresidenan. Bahkan, jika harus diambil dari lingkaran militer, ia menganggap Jenderal A.H. Nasution memiliki senioritas yang lebih tinggi. Namun, Soekarno tetap bersikukuh karena merasa petunjuk yang ia terima sangatlah jelas.
Kepercayaan penuh Soekarno kepada Yani memang memiliki dasar yang kuat. Mengutip karya Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia (1999), Bung Karno sangat menyukai karakter Yani yang fleksibel, terutama sejak Yani dipercaya memegang tampuk KSAD pada 1962. Kedekatan ini juga diperkuat oleh kesaksian ajudan presiden, Maulwi Saelan, dalam bukunya yang terbit pada 2015. Saelan secara gamblang menyebut Ahmad Yani sebagai jenderal yang paling disayangi oleh Soekarno.
Sayangnya, takdir buruk mengakhiri harapan tersebut. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) menjadi titik kelam sejarah bangsa. Mendengar kabar penculikan dan gugurnya para jenderal, Soekarno dilaporkan sangat terpukul, terutama atas kehilangan Yani.
“Mantan Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang paling disayanginya,” tulis Saelan merangkum kepedihan Bung Karno.
Alih-alih menjadi Presiden RI kedua seperti harapan wangsit Soekarno, Ahmad Yani justru gugur sebagai pahlawan revolusi. SetelahRentetan pergolakan politik pasca-G30S berlalu, jabatan presiden selanjutnya pada akhirnya diemban oleh Jenderal Soeharto.











