Menu

Dark Mode
Gaji Guru Sekolah Rakyat Lebih Tinggi dari Guru Reguler? Simak Perbandingan dan Cara Daftar PPPK 2026 Rupiah Sentuh Rp18.000, Maia Estianty dan Nana Mirdad Buka Suara Timnas U-19 Modal Dua Kemenangan, Siap Tantang Vietnam Rupiah Anjlok ke Rp17.900, Apa Dampaknya bagi Ekonomi? Kepergok Ciuman di Kampus, Mahasiswa PNJ Disanksi Prabowo Rombak Pimpinan BGN, Nanik S. Deyang Ditunjuk

Ekonomi

Harga Emas Turun 9%, Analis Yakin Aksi Bank Sentral Tetap Tahan Harga di Level Tinggi

badge-check


Harga Emas Turun 9%, Analis Yakin Aksi Bank Sentral Tetap Tahan Harga di Level Tinggi Perbesar

Harga Emas Turun 9%, Analis Yakin Aksi Bank Sentral Tetap Tahan Harga di Level Tinggi

JAKARTA, (DUNIAHEADLINE) – Kenaikan harga emas yang melesat tajam dalam beberapa bulan terakhir mulai memasuki area jenuh beli (overbought).

Melansir laman Logam Mulia pada Sabtu (31/1/2026), harga emas batangan Rp 2.860.000 per gram, turun Rp 260.000 dibandingkan sehari sebelumnya di Rp 3.120.000.

Ada pun harga emas spot naik 75,13% secara tahunan menjadi US$ 4.894,23 per ons troi. Tapi menurun 8,98% secara harian. Namun, pada Kamis (29/1/2026) pagi, harga emas global sempat mencetak rekor dengan pergerakan harga mendekati US$ 5.600 per troi ons yang kemudian ditutup di level US$ 5.375,24 per ons troi.

Meski demikian, prospek harga emas dinilai masih akan bertahan di level tinggi seiring berlanjutnya aksi akumulasi oleh bank sentral global.

Bank Sentral Masih Jadi Penopang Harga Emas

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky, menilai kondisi pasar emas saat ini diwarnai oleh sinyal yang saling berlawanan antara pelaku pasar keuangan dan otoritas moneter dunia.

“Harga emas ini sudah berada di level jenuh overbought. Namun di sisi lain, bank sentral masih terus melakukan pembelian,” ujar Yanuar kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Ia menjelaskan, dari pasar derivatif, mulai muncul sinyal short di kontrak berjangka emas, khususnya dari ETF berbasis harga emas yang dikelola hedge fund.

Sinyal tersebut mengindikasikan adanya upaya pelaku pasar mengambil keuntungan setelah reli harga yang agresif.

Namun, kondisi itu berhadapan langsung dengan strategi bank sentral berbagai negara yang justru meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari langkah lindung nilai (hedging).

Menurut Yanuar, langkah ini terkait dengan meningkatnya risiko gagal bayar surat utang global di tengah potensi tekanan pasar keuangan internasional.

Yanuar juga menyoroti dinamika di pasar future emas yang memperkuat lonjakan harga dalam waktu singkat. Posisi short jual emas dalam posisi kosong di bursa berjangka merespons naiknya permintaan beli di luar bank sentral, sementara ketersediaan emas fisik terbatas.

“Kenaikan bulan ini yang tajam akibat transaksi short ditutup karena tidak tersedia fisik, ini berakibat naiknya harga emas future karena menutup short dengan buy di harga marjin,” paparnya.

Kondisi tersebut mendorong harga emas di pasar berjangka naik lebih cepat, seiring aksi short covering yang masif.

Meski begitu, Yanuar mengingatkan bahwa pergerakan harga ke depan berpotensi semakin volatil, terutama akibat dinamika posisi ETF.

“Volatilitas bisa meningkat karena posisi ETF. Tapi secara struktural, harga emas masih akan bertahan tinggi karena bank sentral tetap menjadi penopang utama permintaan,” pungkas Yanuar.

Read More

Rupiah Sentuh Rp18.000, Maia Estianty dan Nana Mirdad Buka Suara

5 June 2026 - 17:35 WIB

pelemahan rupiah terhadap dolar AS hingga menyentuh level Rp18.000.

Rupiah Anjlok ke Rp17.900, Apa Dampaknya bagi Ekonomi?

4 June 2026 - 11:46 WIB

rupiah melemah terhadap dolar AS hingga menembus Rp17.900 per dolar.

Polemik PHK PT Hillcon Berlanjut ke DPRD Sultra

29 May 2026 - 10:54 WIB

pekerja tambang terkait polemik PHK PT Hillcon di Sulawesi Tenggara.

Buyback Emas Antam Menguat 9,19% Hari Ini

25 May 2026 - 15:12 WIB

Ilustrasi emas batangan Antam dan informasi harga buyback emas terbaru.

Aduan Konsumen PMSE, Kemendag Panggil Shopee

21 May 2026 - 11:44 WIB

aplikasi Shopee dan logo Kemendag terkait aduan konsumen PMSE.
Trending on Ekonomi