JAKARTA, Duniaheadline – Airbus A380 milik Emirates dengan nomor penerbangan EK302 harus menghadapi insiden operasional yang memicu mimpi buruk bagi ratusan penumpangnya. Pesawat superjumbo tersebut terpaksa dialihkan ke Bandara Internasional Hangzhou Xiaoshan, Tiongkok, dan menahan seluruh orang di dalam kabin selama kurang lebih 17 jam.
Rangkaian Bencana Operasional dan Teknis di Kabin
Insiden ini bermula saat penerbangan dari Dubai menuju Shanghai sudah melalui perjalanan udara selama sekitar tujuh jam. Mendekati wilayah tujuan, badai petir dan kondisi cuaca ekstrem di Bandara Shanghai Pudong membuat pendaratan mustahil dilakukan, sehingga pilot memutuskan untuk mendarat darurat di Hangzhou.
Namun, masalah justru mengembang setelah roda pesawat menyentuh landasan. Penundaan berkepanjangan terjadi akibat kombinasi kegagalan operasional yang saling beruntun. Proses kedatangan internasional berjalan sangat lambat, sementara batas jam terbang awak pesawat (yang ditetapkan maksimal 14 jam untuk kru multi-pilot) sudah terlampaui.
Kedatangan kru pengganti dari Shanghai pun ikut terhambat oleh hujan deras. Di tengah kelengkapan tersebut, situasi di dalam kabin semakin kritis karena sistem pendingin udara (AC) mengalami penurunan daya. Setelah kru pengganti akhirnya tiba dan pesawat dipersiapkan untuk kembali lepas landas, pemeriksaan akhir justru menemukan masalah teknis baru yang membuat penerbangan secara total harus dibatalkan. Barulah setelah itu, seluruh penumpang diperbolehkan menuruni pesawat pada pagi hari.
Alasan Emirates Menahan Penumpang dan Penanganan Pasca-Insiden
Menanggapi kekacauan tersebut, Emirates mengeluarkan permintaan maaf resmi. Maskapai asal Uni Emirat Arab ini menjelaskan bahwa penundaan dipicu oleh badai cuaca, masalah teknis, dan kebutuhan untuk mendatangkan kru pengganti.
Terkait keputusan kontroversial yang mempertahankan penumpang di dalam kabin selama belasan jam tanpa dibolehkan turun, Emirates membela diri. Menurut mereka, menahan penumpang di dalam pesawat merupakan prosedur standar operasional untuk penerbangan internasional yang dialihkan. Langkah ini diambil demi menghindari birokrasi imigrasi yang rumit serta potensi biaya tambahan yang besar di bandara pengalihan.
Meski insiden tersebut berakhir tragis bagi jadwal perjalanan, Emirates memastikan bahwa seluruh penumpang yang akhirnya turun dari kabin A380—pesawat penumpang terbesar di dunia itu—mendapat penanganan pasca-insiden. Mereka dialihkan menggunakan transportasi darat berupa bus dan kereta menuju Shanghai, serta difasilitasi penginapan di hotel untuk beristirahat.
Sementara itu, pesawat A380 yang bermasalah tersebut terpaksa dilarang terbang dan tertahan di Hangzhou selama dua hari penuh, sebelum akhirnya berhasil diperbaiki dan kembali menuju Dubai pada 24 Juli 2026.










