Beberapa tahun yang lalu, Vitinha masih dianggap sebagai gelandang dengan fisik kecil, kurang cepat, dan tidak mungkin memberikan dampak besar di pertandingan level tertinggi. Ketika PSG masih diperkuat superstar seperti Lionel Messi, banyak yang menilai gelandang asal Portugal itu belum mampu memenuhi ekspektasi.
Media Eropa bahkan sempat melaporkan bahwa Messi tidak sepenuhnya puas dengan penampilan Vitinha pada masa-masa awalnya di Parc des Princes. Saat itu, PSG masih berjuang menemukan identitas permainan dan keseimbangan dalam skuad yang dipenuhi pemain bintang.
Namun, sepak bola selalu memberi penghargaan kepada mereka yang gigih. Di bawah arahan Luis Enrique, Vitinha perlahan bertransformasi. Dari pemain yang dianggap hanya sebagai pelengkap, ia berkembang menjadi pusat permainan PSG.
Kemampuannya mengontrol tempo, mempertahankan penguasaan bola di bawah tekanan, keluar dari pressing lawan, serta mendistribusikan umpan dengan akurasi tinggi membuat Vitinha menjadi otak lini tengah klub asal Paris tersebut.
Dari Pemain yang Diragukan Menjadi Jantung Permainan PSG
Perkembangan gelandang kelahiran tahun 2000 itu berjalan seiring dengan periode paling sukses dalam sejarah PSG. Setelah bertahun-tahun mengejar kejayaan Eropa dengan mengumpulkan pemain-pemain bintang, klub Prancis tersebut akhirnya menemukan formula kemenangan melalui permainan kolektif yang terorganisir.
Vitinha menjadi jantung dari sistem tersebut.
Musim 2024/2025 menjadi titik balik ketika PSG berhasil mencapai puncak sepak bola Eropa untuk pertama kalinya. Namun, keberhasilan itu tidak membuat mereka puas. Pada musim 2025/2026, Les Parisiens kembali menunjukkan dominasinya dengan mempertahankan gelar Liga Champions.
Dua trofi Liga Champions secara beruntun tidak hanya mengukuhkan status PSG sebagai kekuatan baru di Eropa, tetapi juga mengangkat Vitinha ke jajaran gelandang terbaik dunia saat ini.
Puncak perjalanan tersebut terjadi pada final Liga Champions 2025/2026. Dalam laga penentuan musim itu, Vitinha mencatatkan 141 umpan sukses dan menyamai rekor legenda Barcelona, Xavi Hernandez, sebagai pemain dengan jumlah operan berhasil terbanyak dalam sejarah final Liga Champions.
Berkat performa impresif tersebut, ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Pertandingan.
Pecahkan Rekor Xavi dan Jadi Raja Umpan Eropa
Kehebatan Vitinha tidak hanya terlihat dalam satu pertandingan. Sepanjang musim 2025/2026, ia mencatatkan rekor baru Liga Champions dengan 1.320 operan sukses, melampaui catatan Xavi yang membukukan 1.299 operan pada musim 2012/2013.
Statistik tersebut bahkan terus bertambah seiring laju PSG menuju gelar juara.
Secara keseluruhan, Vitinha membukukan angka yang luar biasa. Ia mencatat tingkat akurasi umpan mencapai 93,44 persen, salah satu yang tertinggi di Eropa.
Menurut data UEFA, gelandang berusia 26 tahun itu berhasil menyelesaikan 1.456 dari total 1.543 operan di Liga Champions musim ini. Tak hanya piawai mengatur permainan, ia juga menyumbang enam gol dan satu assist dalam 17 pertandingan.
Vitinha juga mencatat rekor pribadi klub ketika sukses menyelesaikan 148 dari 152 operan dalam satu pertandingan perempat final Liga Champions. Catatan tersebut menjadi bukti nyata kemampuan penguasaan bola yang hampir sempurna.
Dari sosok yang sempat diragukan dan dianggap tidak layak memimpin lini tengah PSG, Vitinha kini menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik dunia.
Ia mungkin tidak memiliki kecepatan eksplosif seperti para penyerang elite atau mencetak puluhan gol setiap musim. Namun, kemampuannya mengendalikan jalannya pertandingan melalui umpan dan visi bermain membuatnya menjadi jantung sekaligus jiwa permainan PSG.
Dengan menyamai rekor Xavi dan menjadi sosok kunci dalam keberhasilan PSG meraih dua gelar Liga Champions secara beruntun, Vitinha tidak hanya membungkam para pengkritiknya. Ia juga membuktikan bahwa sepak bola modern masih memiliki ruang bagi para maestro yang mengendalikan ruang, tempo, dan bola—kualitas yang dahulu identik dengan Xavi, dan kini kembali hidup melalui sosok bernama Vitinha.











