JAKARTA, Duniaheadline – Hasil Pemilu Israel 2026 dijadwalkan diumumkan pada 4 November 2026. Proses penghitungan suara diperkirakan rampung pada 30 Oktober, sementara persaingan politik masih berlangsung ketat antara kubu Benjamin Netanyahu dan kelompok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot.
Hasil sementara menunjukkan belum ada blok politik yang diproyeksikan memperoleh mayoritas mutlak di parlemen Israel atau Knesset. Kondisi tersebut membuat proses pembentukan pemerintahan baru berpotensi berlangsung panjang karena setiap kubu perlu menggalang dukungan dari partai lain.
Persaingan Ketat dan Syarat Mayoritas di Knesset
Knesset memiliki 120 kursi. Untuk membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas parlemen, sebuah koalisi perlu mengamankan sedikitnya 61 kursi.
Apabila tidak ada blok yang mencapai jumlah tersebut secara mandiri, partai-partai politik harus melakukan negosiasi untuk membangun koalisi. Kesepakatan dapat melibatkan pembagian posisi pemerintahan serta penyelarasan agenda politik di antara partai-partai yang bergabung.
Situasi ini membuat hasil akhir pemilu tidak hanya ditentukan oleh jumlah suara yang diperoleh masing-masing partai, tetapi juga oleh kemampuan mereka membangun dukungan setelah pemungutan suara selesai.
Peran Presiden dalam Pembentukan Pemerintahan Baru
Setelah hasil pemilu ditetapkan, Presiden Israel Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan perwakilan partai-partai yang terpilih. Berdasarkan proses tersebut, presiden akan menunjuk anggota parlemen yang dinilai memiliki peluang terbesar untuk membentuk pemerintahan.
Anggota parlemen yang menerima mandat kemudian harus menyusun koalisi dengan dukungan yang memadai di Knesset. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa pekan atau bahkan berbulan-bulan apabila negosiasi antarpartai menemui hambatan.
Jika tidak ada kandidat yang berhasil membentuk pemerintahan, Israel berpotensi menghadapi kebuntuan politik yang dapat berujung pada pemilu ulang sesuai mekanisme yang berlaku.
Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu kali ini dilaporkan mencapai 77,7 persen, angka tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Partisipasi tersebut menunjukkan besarnya keterlibatan pemilih dalam menentukan arah politik Israel.
Meski demikian, kepastian mengenai komposisi pemerintahan berikutnya baru dapat diketahui setelah hasil resmi dan proses pembentukan koalisi selesai.














