Menu

Dark Mode
Buket Bunga Diska Dibuang, Sarah Gibson Pilih Move On Populasi Motor Bensin 130 Juta Unit, Peluang Motor Listrik Indonesia Dinilai Masih terbuka Harga BBM Nasional Mengunci Angka, Tidak Tersentuh Gejolak Pasar Ruben dan Sarwendah Berselisih soal Biaya Renovasi Rp11 Miliar Gerakan Rakyat Resmi Daftar ke Kemenkum sebagai Parpol Kaesang Pangarep Siap Maju Pileg 2029 dari Dapil Puan

Internasional

Iran Izinkan Tanker Thailand Lewat Hormuz Usai Negosiasi

badge-check


					Iran izinkan tanker Thailand melintas Selat Hormuz usai negosiasi. Perbesar

Iran izinkan tanker Thailand melintas Selat Hormuz usai negosiasi.

JAKARTA, (DUNIAHEADLINE) – Giliran Thailand yang mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengizinkan kapal-kapal tanker minyak dari negara tersebut melintasi Selat Hormuz secara aman. Sebelumnya, kapal milik China, Rusia, Pakistan, Irak, India hingga Malaysia telah diizinkan melintas.

Dirangkum detikcom, Minggu (29/3/2026), Selat Hormuz yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan energi global terdampak oleh perang berkelanjutan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Kesepakatan Thailand dan Iran

Kesepakatan antara Bangkok dan Teheran ini, seperti dilansir AFP, diumumkan oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dalam konferensi pers pada Sabtu (28/3) waktu setempat.

“Sebuah kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz,” kata Anutin, sembari menambahkan bahwa perkembangan ini akan mengurangi kekhawatiran tentang impor bahan bakar.

“Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang kembali,” sebutnya.

Menurut Badan Informasi Energi AS, lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz dibawa ke kawasan Asia. Sebagian besar negara Asia Tenggara menanggung dampak kesulitan pasokan bahan bakar, dan antrean panjang di pom bensin di Thailand semakin sering terjadi.

“Pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat,” ucap Anutin dalam konferensi pers.

Dampak Konflik dan Gangguan Pelayaran

Awal bulan ini, sebuah kapal jenis bulk carrier milik Thailand yang berlayar di jalur perairan strategis itu diserang dan tiga awak kapal dilaporkan hilang.

Pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz, menurut platform pelacakan Kpler, dilaporkan anjlok hingga 95 persen antara 1 Maret hingga 26 Maret setelah dimulainya perang.

Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa pasukan mereka telah memaksa mundur tiga kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa jalur tersebut ditutup untuk kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan milik “musuh” Iran.

Laporan badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris, UKMTO, menyebut sedikitnya 24 kapal komersial, termasuk 11 kapal tanker, telah diserang atau mengalami insiden di perairan Teluk, Selat Hormuz, atau Teluk Oman sepanjang bulan ini.

Daftar Negara yang Diizinkan Melintas

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan sebuah kapal tanker Malaysia telah diberi izin oleh pemerintah Iran untuk melintasi Selat Hormuz. India, Irak, China, dan Pakistan juga termasuk negara yang diizinkan melintas.

“Kini kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta para pekerjanya agar mereka dapat meneruskan perjalanan pulang,” ujar Anwar dalam pidato khusus yang disiarkan secara langsung di televisi nasional.

Dalam pidato tersebut, Anwar menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin yang diberikan kepada kapal tanker Malaysia.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Ia menyebut banyak negara telah menghubungi pihaknya untuk memastikan keselamatan pelayaran.

“Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman,” ujarnya.

Araghchi menambahkan bahwa kapal dari negara yang dianggap sebagai musuh, seperti Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Teluk, tidak akan diizinkan melintas.

“Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” tegasnya.

Read More

Dubes Dipanggil, AS-Malaysia Hadapi Krisis Diplomatik

25 July 2026 - 12:53 WIB

Bendera Amerika Serikat dan Malaysia berdampingan.

Boeing 737 Kargo Hilang Usai Error Navigasi, Operasi Pencarian Masih Berlangsung

9 July 2026 - 11:04 WIB

Pesawat Boeing 737 kargo dilaporkan hilang setelah mengalami dugaan gangguan sistem navigasi.

Su-35 Rusia untuk Iran, Ini Kemampuan dan Persenjataannya

6 July 2026 - 12:15 WIB

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 Flanker-E milik Rusia yang dipersiapkan untuk memperkuat Angkatan Udara Iran.

Tiket VIP Konser The Weeknd Tetap Diburu Fans

18 May 2026 - 11:09 WIB

Suasana konser The Weeknd dengan area VIP premium di Jakarta International Stadium.

5 Fakta Kerusakan Pangkalan AS di Timur Tengah yang Jadi Sorotan Dunia

3 May 2026 - 10:43 WIB

pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah
Trending on Internasional