JAKARTA, Duniaheadline – Tekanan inflasi di Indonesia diperkirakan mulai mereda pada Oktober 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas, termasuk daging ayam, telur, dan emas perhiasan, menjadi faktor yang diperkirakan menahan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Andry Asmoro, memperkirakan inflasi bulanan Oktober berada di level 0,19%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi September 2026 yang mencapai 0,30%.
Secara tahunan, inflasi diproyeksikan berada di kisaran 3,19%, melandai dari posisi 3,28% pada bulan sebelumnya.
Penurunan Harga Pangan Menahan Laju Inflasi
Andry menjelaskan bahwa meredanya tekanan pada kelompok pangan bergejolak atau volatile food menjadi salah satu faktor utama perlambatan inflasi.
Kelompok tersebut diperkirakan mengalami inflasi sebesar 0,80% secara bulanan pada Oktober, lebih rendah dibandingkan 1,46% pada September.
Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya sumbangan kenaikan harga cabai rawit terhadap inflasi. Kontribusinya diperkirakan turun menjadi 0,03 poin persentase, dari sebelumnya 0,12 poin persentase.
Di sisi lain, harga daging ayam dan telur ayam ras tercatat memberikan kontribusi deflasi masing-masing sebesar 0,03 dan 0,01 poin persentase.
Proyeksi tersebut disampaikan Andry dalam laporan Macro Preview Office of Chief Economist (OCE) Bank Mandiri yang dikutip pada Minggu (1/11/2026).
Harga Emas Turut Menekan Inflasi Inti
Selain pangan, komponen inflasi inti juga diperkirakan mengalami perlambatan. Bank Mandiri memproyeksikan inflasi inti mencapai 0,08% secara bulanan dan 2,52% secara tahunan.
Penurunan harga emas perhiasan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan komponen tersebut. Komoditas ini diperkirakan memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,03 poin persentase.
Kondisi tersebut sejalan dengan Mandiri Spending Index (MSI) yang mencatat kontraksi tipis sebesar 0,1% secara bulanan. Pada periode yang sama, rata-rata nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan sekitar 1,2%.
Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices diperkirakan mengalami deflasi ringan sebesar 0,10% secara bulanan. Penurunan tarif angkutan udara menjadi salah satu pendorongnya, sedangkan harga BBM nonsubsidi tidak mengalami perubahan selama Oktober.
Ekonom BCA Perkirakan Inflasi Oktober Lebih Terkendali
Perkiraan perlambatan inflasi juga disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., David Sumual. Ia memperkirakan inflasi Oktober berada di level 0,14% secara bulanan dan 3,14% secara tahunan.
Untuk inflasi inti, David memproyeksikan angka sebesar 0,04% secara bulanan dan 2,47% secara tahunan.
Menurutnya, melemahnya kenaikan harga emas menjadi salah satu faktor yang menahan inflasi inti. Ia juga melihat tekanan dari komoditas pangan relatif terbatas, terutama karena penurunan harga daging ayam dapat mengimbangi kenaikan sejumlah bahan pangan lainnya.
Meski demikian, harga cabai masih menunjukkan kenaikan yang cukup tinggi di pasaran sehingga tetap menjadi salah satu komoditas yang perlu diperhatikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan realisasi inflasi Oktober 2026 pada Senin (2/11/2026) siang. Angka resmi tersebut akan menjadi acuan untuk melihat apakah perkembangan harga konsumen sesuai dengan proyeksi para ekonom.















